“
Angga” Panggil gadis itu yang bernama Lina. Orang yang dipanggil Lina sedari
tadi sibuk mengemas beberapa alat-alat pertukangan untuk keperluannya dirumah
kemudian mulai mengenal suara itu lalu menoleh ke arah Lina . Bruuukk… Kardus
yang berisi peralatan tukang yang dipegang Angga itu jatuh berserakan. “Lina”.
Mereka
berdua saling berpatungan, mata mereka saling bernegoisasi dan bertatapan
sementara hati mereka saling kebat kebit, Toko peralatan tukang sudah menjadi
tempat takdir yang mempertemukan mereka berdua. rupanya mereka masih memiliki
rasa satu sama lainnya yaitu cinta, entah takdir apa yang diberikan pada
mereka?
Disebelah
mereka ada seorang perempuan, usianya berkisar 25 tahun, dia adalah istri
Angga, Nisa sibuk memilih keramik yang cocok untuk rumah baru mereka dikota
yang dimana bagi Nisa terasa asing sebab Nisa baru pindah dari Bogor bersama
suaminya atas permintaan suaminya dengan alasan suaminya, Angga merindukan kota
kelahirannya dan meminta untuk tinggal didaerah Kalimantan yang dimana bagi
Nisa , terlalu mendadak pindah ke Kalimantan, demi menjaga pernikahan yang
telah berjalan 4 tahun, Nisa menuruti keinginan suaminya.
Nisa
tengah memilih-milih keramik kemudian dia menemukan keramik yang disukainya
lalu bergegas mencari Angga, suaminya. Setelah menemui Angga, Nisa bukannya
langsung menyosor, langkahnya yang berlari kecil ketempat dimana suaminya
berada mendadak berhenti. Nisa melihat
suaminya bersama wanita yang tidak dikenalnya. Api dihati Nisa mulai membara,
dengan semangat namun Nisa berusaha memadamnya dengan kepercayaannya terhadap
suaminya.
“Sayang”
Panggil Nisa. Angga sontak kaget mendengar panggilan istrinya.
“Aku
sudah memilih keramik yang cocok untuk rumah kita, bagaimana?” kata Nisa sambil
menyodorkan buku yang berisi motif-motif keramik kepada Angga. Tanpa
memperdulikan kehadiran Lina dan beberapa peralatan tukang berserakan dilantai.
“Bagaimana
sayang, apakah kamu suka motifnya?”. tanya Nisa
Angga
kagok lalu mengangguk pelan “aku suka , kita beli ini saja ya”. jawab Angga,
setelah mengumpulkan peralatan tukang ke kardus kemudian Angga memperkenalkan
Lina kepada Nisa.
“Nisa.
kenalkan ini teman SMA aku dulu, namanya Lina” , Angga menyikut siku Nisa untuk
segera menyalami Lina . “ Lina” sapa Lina dengan ramah . “Nisa”, jawab Nisa dengan datar lalu
menyambung ucapannya . “Istrinya Angga”, jawab Nisa dengan mantap.
Mendengar
ucapan Nisa, Angga mengigit bibir bawahnya, “tamatlah sudah riwayatku ”, bisik
Angga dalam hatinya. Lina yang mendengar
ucapan Nisa langsung menyambung ucapan Nisa dengan berpura-pura tahu tentang
Nisa. “ Istrinya Angga yang sering diceritakan Angga pada tema-temannya, dan
aku dengar dari teman-temannya bahwa kamu benar-benar menjadi topik utama dalam
pembahasan setiap Angga bertemu dengan temannya, Angga menyanjungmu, aku
bersyukur mengenalmu dan dapat melihat langsung istri yang disanjung-sanjung
Angga temanku, ternyata memang benar. Kamu cantik”, ucap Lina berbohong .
Nisa
yang mendengar ucapan Lina , hatinya langsung berbuga-bunga, wajah devilnya
tiba-tiba berubah menjadi peri baik hati dan ramah kepada Lina. Nisa langsng
mengajak Lina kerumah barunya , Lina pun menuruti gandengan Nisa.
Angga
melotot tajam kearah Lina seakan menyiratkan sebuah pertanyaan , “Lina, Kenapa
kamu berbohong?”. Lina pun menyadari tatapan aneh dari Angga lalu mengangkat
bahunya kemudian menyatukan kedua
tangannya dihadapan dagunya , “Maaf Angga”, pinta Lina.
Kemudian
Angga, Nisa , Lina serta kedua anak kandung dari pasangan Angga dan Nisa.
Mereka berkumpul dalam satu ruangan , dibawah seatap rumah yang baru dibeli
oleh Angga, sengaja dinamai Rumah Cemara.
Nama rumah ini didapatkan dari Lina, cinta pertamanya dulu ketika mereka
bermain bersama ditaman, sama –sama mengkhayalkan masa depan untuk selalu
bersama, sayangnya kandas hanya karena kesalahpahaman. Bagi Angga , dia sengaja
memberikan nama rumah ini Rumah cemara
sebagai pembuktian bahwa dia tidak pernah berbohong pada Lina. Namun takdir
membuat mereka berkumpul meski tidak seperti mereka bayangkan.
“Kau cinta pertamaku dan Istriku cinta
terakhirku” bisik Angga terhadap Lina.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar