Sabtu, 22 Maret 2014

SKANDAL

           Degh.. Gubrak , rasanya seperti ada yang jatuh dari langit , ups salah, maksudnya rasanya jantung mau dicopot habis-habisan. Hati gadis itu tidak karuan sekaligus salting saat berhadapan dengan laki-laki yang dia taksir sejak sekolah SMA. “kamu kenapa ada bisa disini”batin gadis itu dengan ketidak mengertiannya.
“ Angga” Panggil gadis itu yang bernama Lina. Orang yang dipanggil Lina sedari tadi sibuk mengemas beberapa alat-alat pertukangan untuk keperluannya dirumah kemudian mulai mengenal suara itu lalu menoleh ke arah Lina . Bruuukk… Kardus yang berisi peralatan tukang yang dipegang Angga itu jatuh berserakan. “Lina”.
Mereka berdua saling berpatungan, mata mereka saling bernegoisasi dan bertatapan sementara hati mereka saling kebat kebit, Toko peralatan tukang sudah menjadi tempat takdir yang mempertemukan mereka berdua. rupanya mereka masih memiliki rasa satu sama lainnya yaitu cinta, entah takdir apa yang diberikan pada mereka?
Disebelah mereka ada seorang perempuan, usianya berkisar 25 tahun, dia adalah istri Angga, Nisa sibuk memilih keramik yang cocok untuk rumah baru mereka dikota yang dimana bagi Nisa terasa asing sebab Nisa baru pindah dari Bogor bersama suaminya atas permintaan suaminya dengan alasan suaminya, Angga merindukan kota kelahirannya dan meminta untuk tinggal didaerah Kalimantan yang dimana bagi Nisa , terlalu mendadak pindah ke Kalimantan, demi menjaga pernikahan yang telah berjalan 4 tahun, Nisa menuruti keinginan suaminya.
Nisa tengah memilih-milih keramik kemudian dia menemukan keramik yang disukainya lalu bergegas mencari Angga, suaminya. Setelah menemui Angga, Nisa bukannya langsung menyosor, langkahnya yang berlari kecil ketempat dimana suaminya berada  mendadak berhenti. Nisa melihat suaminya bersama wanita yang tidak dikenalnya. Api dihati Nisa mulai membara, dengan semangat namun Nisa berusaha memadamnya dengan kepercayaannya terhadap suaminya.
“Sayang” Panggil Nisa. Angga sontak kaget mendengar panggilan istrinya.
“Aku sudah memilih keramik yang cocok untuk rumah kita, bagaimana?” kata Nisa sambil menyodorkan buku yang berisi motif-motif keramik kepada Angga. Tanpa memperdulikan kehadiran Lina dan beberapa peralatan tukang berserakan dilantai.
“Bagaimana sayang, apakah kamu suka motifnya?”. tanya Nisa
Angga kagok lalu mengangguk pelan “aku suka , kita beli ini saja ya”. jawab Angga, setelah mengumpulkan peralatan tukang ke kardus kemudian Angga memperkenalkan Lina kepada Nisa.
“Nisa. kenalkan ini teman SMA aku dulu, namanya Lina” , Angga menyikut siku Nisa untuk segera menyalami Lina . “ Lina” sapa Lina dengan ramah .  “Nisa”, jawab Nisa dengan datar lalu menyambung ucapannya . “Istrinya Angga”, jawab Nisa dengan mantap.
Mendengar ucapan Nisa, Angga mengigit bibir bawahnya, “tamatlah sudah riwayatku ”, bisik Angga dalam hatinya.  Lina yang mendengar ucapan Nisa langsung menyambung ucapan Nisa dengan berpura-pura tahu tentang Nisa. “ Istrinya Angga yang sering diceritakan Angga pada tema-temannya, dan aku dengar dari teman-temannya bahwa kamu benar-benar menjadi topik utama dalam pembahasan setiap Angga bertemu dengan temannya, Angga menyanjungmu, aku bersyukur mengenalmu dan dapat melihat langsung istri yang disanjung-sanjung Angga temanku, ternyata memang benar. Kamu cantik”, ucap Lina berbohong .
Nisa yang mendengar ucapan Lina , hatinya langsung berbuga-bunga, wajah devilnya tiba-tiba berubah menjadi peri baik hati dan ramah kepada Lina. Nisa langsng mengajak Lina kerumah barunya , Lina pun menuruti gandengan Nisa.
Angga melotot tajam kearah Lina seakan menyiratkan sebuah pertanyaan , “Lina, Kenapa kamu berbohong?”. Lina pun menyadari tatapan aneh dari Angga lalu mengangkat bahunya  kemudian menyatukan kedua tangannya dihadapan dagunya , “Maaf Angga”, pinta Lina.
Kemudian Angga, Nisa , Lina serta kedua anak kandung dari pasangan Angga dan Nisa. Mereka berkumpul dalam satu ruangan , dibawah seatap rumah yang baru dibeli oleh Angga, sengaja dinamai Rumah Cemara. Nama rumah ini didapatkan dari Lina, cinta pertamanya dulu ketika mereka bermain bersama ditaman, sama –sama mengkhayalkan masa depan untuk selalu bersama, sayangnya kandas hanya karena kesalahpahaman. Bagi Angga , dia sengaja memberikan nama rumah ini Rumah cemara sebagai pembuktian bahwa dia tidak pernah berbohong pada Lina. Namun takdir membuat mereka berkumpul meski tidak seperti mereka bayangkan. 

 “Kau cinta pertamaku dan Istriku cinta terakhirku” bisik Angga terhadap Lina.

bersambung


Kamis, 20 Maret 2014

Gadis Tunarungu dan Papan Ajaibnya

“Ah.. ini hari pertama aku masuk sekolah , apa yang harus aku lakukan ? bagaimana saya bisa berkomunikasi dengan teman baru disini , pasti tidak ada yang mengerti bahasa isyaratku. Ah aku benar-benar binggung”, ujar gadis itu pada dirinya sendiri, entah kepada siapa dia berbicara , jelas-jelas dia berbicara dengan   dirinya sendiri.
Gadis itu memonyongkan bibirnya beberapa senti sambil memegang erat tas salempangnya, tepat dihadapan pintu masuk sekolahnya. “baiklah, aku tidak boleh menyerah, aku akan buktikan bahwa aku bisa, ayo Beby, semangatttt”, tegas gadis itu  menyemangati dirinya sendiri
Siapa Beby? Anyway, Gadis itu Anindita Beby Purnamasari, gadis itu  biasanya dipanggil oleh orang-orang terdekatnya dengan sebutan Beby, Beby merupakan gadis tunarungu pemakai abd (alat bantu dengar), dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya , pasangan Om Widodo dan Ibu Ana, berkat penerimaan kedua orang tuanya, Beby tumbuh dengan selayaknya sama seperti anak normal lainnya. 
Dalam keterbatasan pendengaran dan bicara , Beby ingin melakukan hal yang beda yaitu melibatkan dirinya pada lingkungan yang lebih luas termasuk ditengah-tengah orang yang berbeda dengan dirinya, tidak sama seperti disekolah sebelumnya dia terlibat dengan teman senasibnya , teman sama-sama tunarungu. Kali ini tidak , Beby ingin melakukan hal yang beda, dia memasuki dunia asing perlahan-lahan dengan cara masuk Sekolah umum bukan Sekolah Luar Biasa.
Disekolah SMA NEGERI 68 JAKARTA. “Bismillahirrahmanirrahmanirrahim”, ucap Beby segera melangkah menuju koridor sekolah untuk mencari ruangan Kepala Sekolah. Berbekal  prinsip ,” Malu bertanya sesat dijalan” , Beby melihat ada satu siswa laki-laki yang kebetulan sedang serius membaca majalah dinding yang terpampang dipapan mading.
Lalu Beby menghampiri dan menegurnya kemudian laki-laki yang sedang serius membaca mading akhirnya menoleh lalu beberapa detik kemudian laki-laki itu menaikkan alisnya, “ Ada apa? “ ucap laki-laki itu . Bebi yang ditanya kemudian menjawab, “Saya mau tanya dimana ruang Kepala Sekolah?” Tanya Beby dengan bahasa isyarat. Laki-laki itu bengong , tidak mengerti bahasa isyarat Beby. Setelah beberapa kali Beby mengulang ucapannya, Beby menyadari bahwa laki-laki itu tidak mengerti bahasa isyaratnya kemudian Beby mengambil buku notenya dan menulis pertanyaannya dikertas, setelah itu Beby memberikan kertas itu kepada laki-laki itu. “ehm, Ruangan Kepala Sekolah ada disana , kamu jalan lurus kearah kiri nanti belok ke kanan setelah kamu akan mendapati ruangan itu “ , kata laki-laki itu sementara Beby melototnya dengan berharap bisa memahami ucapan laki-laki itu.
“Terimakasih banyak “ , ucap Beby dengan bahasa isyaratnya.
“Sama-sama “ , jawab lelaki itu sambil menyungingkan senyumannya yang manis.
Belum sempat laki-laki itu melanjutkan pembicaraan mengenai perkenalan diri, Beby sudah meninggalkannya , “Dia cantik sekali sayangnya dia tuli dan bisu”, lirih batinnya
Setelah Beby menemui Kepala Sekolahnya , Ibu Sukarni. Beby memperkenalkan dirinya , untung Ibu Sukarni, Kepala sekolah barunya memahami maksud kedatangan Beby karena Ibu Arni itu sudah tahu sebelumnya mengenai Beby, kemudian Ibu Ani menyuruh Guru kelas  membawa Beby kekelas barunya.
 “Anak-anak, sekarang kita kedatangan teman baru kita, Ibu harap kalian bisa belajar dan bermain bersamanya”, kata Ibu Wati, guru kelasnya membuka suara setelah situasi tenang akibat keributan yang dibuat siswa-siswa tersebut selama menunggu gurunya dikelas. Anak-anak dikelas pun serius mendengarkan pernyataan Ibu wati lalu ada beberapa siswa memandang kearah pintu. Beby pun masuk kekelas sambil tersenyum ramah kepada siswa yang ada dikelas tersebut.
Beby berdiri didepan kelas, didepan teman barunya . “Perkenalkan dirimu pada teman-temanmu “, ucap Ibu wati dengan ramah.
Beby memperkenalkan dirinya dengan bahasa isyarat, “Teman-teman, perkenalkan nama saya Beby” ,
            “Ah ngomong apaan nih dianya bu?, ternyata dia budek bu, bisu juga Hahahahahaahahha“. ucap salah satu siswa perempuan yang terkenal centil, ucapan itu disambut tawa gelak beberapa siswa, namun ada beberapa siswa bersimpati dan ber empati padanya, tapi ada juga yang kaget dan tidak percaya bahwa dia bisa sekelas dengan Beby, ya Vino namanya , laki-laki yang sebelumnya pernah bertemu dengan Beby didepan papan mading. Vino tersenyum melambaikan tangan kearah Beby. Beby terhibur dengan adanya Vino. “senyumnya”, bisik Beby.
Diam anak-anak, kita semua sama, tidak ada bedanya , walaupun Beby tidak bisa bicara dan mendengar tapi dia bisa mengikuti pelajarannya,dia juga punya hak belajar disini sama  seperti kalian, kepada Ara, tolong jaga ucapanmu atau Ibu akan menghukummu”, Tegas Ibu wati.
Ara yang tadinya mengejek Beby, bungkam dan menutup bibirnya.
Untuk memecahkan keadaan Beby menuliskan namanya dipapan tulis Nama saya Anindita Beby Purnamasari, Teman-teman bisa memanggil saya Beby tulis Bebi dipapan putih  setelah itu dia tersenyum .
“Beby, kamu duduk disana ya” , saran Ibu wati.
“ Iya bu, Terimakasih banyak bu”, Beby menuruti lalu duduk bersebelahan dengan Vino, “Hai” sapa Vino. “Hai juga“ sapa Beby melambaikan tangganya. Dan mereka saling tersenyum sementara hati mereka kebat kebit. Ah.. mereka jatuh cinta , secepat itukah.. padahal baru pertama kali mereka bertemu, cinta memang tidak pernah mengenal waktu, dia bisa datang kapanpun dia mau bahkan semenitpun saja.
Hari pertama sekolah SMA bagi Beby tidak terlalu buruk, Bebi rupanya sudah bisa melewati hari-harinya disekolah bahkan sudah bisa menguasai keadaan dengan cara-cara khasnya, disekolah Bebi mengenalkan seni figura yang dihias oleh kerang dan batu-batuan kerikil cantik seperti batu-batuan didasar lautan kepada teman-temannya. Karena Beby memiliki jiwa seni, teman-temannya sudah mulai menyukainya , hanya Ara dan gengnya saja yang iri terhadap Beby.
Keirian Ara semakin memuncak ketika Beby menjadi terkenal disekolahnyan akibat kepiawaian Beby dalam menggelarkan karya seninya kepada teman-teman sehingga teman-temannya tidak jarang minta dibuatkan karya pilihannya, untuk mengembangkan bakatnya, Beby dengan senang hati membuat karya seni yang dipesan oleh beberapa temannya, sehingga Beby dari hari kehari dia mulai melakukan bisnis, tidak hanya disekolah tapi diluar sekolah juga, tak heran juga Beby selalu memiliki banyak tabungan dengan harapan suatu saat nanti bisa membuka Butik galeri seni.
Berbicara mengenai sahabat Beby, sahabatnya papan ajaib , aneh bukan? Papan ajaib itu berukuran panjang 4 cm dan lebar 3 cm. Papan ajaib itu didapatkan dari teman misteriusnya saat hari pertama dia sekolah. Pada saat itu Beby pulang sekolah dia mendapati sebuah bingkisan yang tertulis “UNTUK BEBY”, kemudian Bebi membuka bingkisan itu, ternyata papan hitam biasa. pikir Beby.
Tanpa ba bi bu, keesokan Bebi berinsiatif mengkreasikan papannya tanpa bertanya dari siapa dan buat apa papan ini. Setelah mengkreasikan papan ini dengan hasil olahan tangan Beby dengan niat untuk tempat bingkai beberapa foto, Pertama Bebi mengkreasikan pinggiran papan itu dengan manik-manik bebatuan yang didapatnya ditepi pantai putih Lombok ketika Bebi berliburan kekampungnya.
Setelah menghabiskan dua malam untuk mengkreasikan pingggiran papan tersebut , Beby memasang papan itu kedinding kamarnya.
“ Kamu cantik “ , puas Beby dengan bahasa isyaratnya
“Terimakasih Beby” , tulisan papan ajaib itu tiba-tiba muncul
Beby kagetnya bukan kepalang, sambil mengigil ketakutan . “Kamu siapa?”, Tanya Beby
Dalam dunia ini kamu bisa mengangapnya papan ajaib, tempat kamu berbagi, ketika kamu membutuhkan seorang sahabat, aku selalu siap jadi sahabatmu asal aku bersamamu seperti ini, didinding kamar ini meskipun aku hanya sebuah benda”, jawab papan ajaib itu berbicara dalam tulisannya.
“Bagaimana kamu bisa seperti ini? , apa yang menyebabkan kamu bisa seperti ini?, apakah kamu alien?” , Tanya Beby dengan bahasa isyaratnya
“Jangan Tanya siapa aku karena aku sudah ditakdirkan disini dari seseorang untukmu, kuharap kamu bisa memahaminya” , jawab papan ajaib tersebut.
Bolehkan aku tahu siapa orang yang mengirimmu disini, papan ajaib?”
“Jika dia mengizinkan aku akan memberitahukan siapa dia Beby namun dia tidak ingin kamu tahu, belum saatnya Beby” , tulisan papan ajaib tersebut
“ Baiklah kalau begitu kamu harus berjanji memberitahuku siapa dia” , kata Beby berharap papan ajaib mau berjanji.
“Janji “. Tulis papan ajaib membuat Beby senang  dan kemudian Beby tidak takut lagi terhadap papan ajaib yang diangapnya sebelum ini adalah benda yang menakutkan , dan sejak  saat pengenalan panjang antara Beby dan Papan Tulis itu, Beby selalu menjadikan papan ajaib itu seperti sahabat yang tak terpisahkan, kadang-kadang papan ajaib selalu nonstop 24 jam untuk  mendengarkan cerita Beby setiap hari, tak hanya itu Papan ajaib juga membantu Bebi ketika Beby ada masalah baik masalah pribadi maupun masalah diluar pribadinya melalui tulisan bijaknya.
Kembali pada hubungan Beby dengan Vino, semakin hari semakin akrab, mereka saling memendam perasaan mereka masing-masing padahal sudah lama waktu berjalan, bagi mereka terlalu singkat mempersiapkannya, butuh waktu lama untuk mengungkapkan apa yang dihati mereka masing-masing, hingga suatu hari papan ajaib menampakkan tulisannya “Beby, apa kamu ada masalah? Kenapa wajah kamu kelihatan jelek banget hari ini?. Dengan teguran kelap kelip lampu dari papan tulis membuat mata Beby mencari asal sumber cahaya itu , ternyata Papan Ajaib Beby. Bebi membacanya dan kemudian tertawa lalu menjawab “sejelek itukah aku”, Beby berbicara dengan bahasa isyarat, wajahnya manyun kemudian melanjutkan kata-katanya “Seperti kamu tahu aku menyukai Vino, sudah berapa lama kami berteman sampai sekarang aku belum melihat tanda-tanda dia mengungkapkan perasaannya” Lirih Beby mengungkapkan kegelisahan hatinya.
Beby, Bukankah Vino sudah menunjukan tanda-tanda dia menyukaimu seperti yang kamu bicarakan padaku sebelumnya bahwa Vino setiap hari mengajakmu bermain kemana-mana, mengantarmu pulang sekolah setiap hari, bahkan dia sering memberikanmu bingkisan meskipun kamu tidak ulang tahun saat itu dan juga dia selalu menghubungimu.Vino sebenarnya menyukaimu, Cinta tak harus diungkapkan dengan kata-kata Beby”. Jelas papan tulis menampakan tulisannya dan Beby membacanya.
“Tapi aku ingin mendengarkannya dengan langsung , Papan ajaib” , ucap Beby dengan sendu.
“Beby, kamu semakin jelek saja, aku yakin suatu saat nanti Vino akan mengatakannya, kamu hanya bersabar saja menunggu, akan indah pada waktunya jika kamu tulus menunggunya”, puitis papan ajaib itu kepada Beby.
Beby tersenyum lega kemudian mengiyakan “aku akan menunggu sampai kapanpun, terimakasih kamu sudah menjadi pendengar setiaku selama ini”, ucap Beby sambil memegang papan Ajaib itu, seketika Papan Ajaib itu bergerak sendiri kekanan kekiri.
Ada apa dengan kamu ? Papan Ajaib” , Tanya Beby dengan perasaan khawatir terhadap Papan tulis.
“Aku terlalu senang saja Beby”
Mendengar pernyataan Papan Tulis, Beby lega “kamu membuatku khawatir “,.
Keesokkan harinya , Beby ingin bertemu dengan Vino, namun sejak setelah pelajaran Beby tidak melihat Vino , kemudian Beby penasaran “kemana Vino ya?” , Beby memcari Vino diseluruh sekolah namun hasilnya nihil, lalu ada salah seorang temannya mengatakan bahwa dia melihat Vino jalan ke atas jenjang yang dimana dipakai untuk menuju ruangan yang tidak terpakai alias gudang.
“Ngapain Vino digudang?” , Tanya Beby sama pemikirannya sambil menggaruk sedikit rambutnya, lalu kemudian Beby akhirnya melihat dari jauh tampak ujung hidung sampai kaki Vino , Vino sedang serius  membaca sesuatu mulutnya komat kamit seolah-olah berbicara dengan seseorang, matanya Vino menari-nari dari kearah kiri keanan dengan seksama.
“Apakah mading ada juga digudang, sampai jauh-jauh kesini, tapi Vino dengan siapa berbicara”, bisik Beby pada hatinya, dia lunglai akibat kelelahan harus naik tangga kelantai 4.
Setelah dekat kearah Vino, Beby kaget rupanya Vino sedang berbicara dengan papan ajaib persis sama dengan miliknya yang ada dikamarnya dirumah. “Bagaimana bisa papan itu ada bersamamu, Vino?” , tegur Beby kepada Vino dengan bahasa isyaratnya.
Vino lantas terkejut dengan kehadiran Beby, “Aku tidak bisa menutupinya lagi”, kata Vino mengarah kepapan ajaib. Papan ajaib itu menjawab “katakanlah rahasia sebenarnya pada Beby, Tuan”.
“Tuan? Rahasia?  maksud papan ajaib ini apa Vino ? jelaskan padaku “ , ucap Beby sambil mengoncangkan tubuhnya Vino yang lunglai karena rahasia akan perlahan terungkap
“Sebenarnya papan ajaib ini milikku, pemberian mendiang nenekku yang juga tidak bisa bicara dan mendengar sama sepertimu, kupikir kamu membutuhkan maka aku mengirimkan papan ajaib ini dengan diam-diam kekamarmu. Meskipun Papan ajaib ini bersama kamu, namun dia juga bersamaku setiap aku menginginkannya, dia bisa menghilang dan muncul tiba-tiba ketika aku membutuhkannya, jadwal tengah malam itu jadwal yang tepat bagiku untuk bisa berinteraksi dengannya, mengenai tentang kamu. Maafkan aku Beby, aku tidak terbuka karena aku takut kehilangan kamu, Beby, aku mengirimkannya karena aku mulai jatuh cinta padamu, maafkan aku Beby”, Lirih Vino menjelaskan semuanya kepada Beby.
“Jadi nenekmu alien sampai memiliki benda seperti itu Vino?”, Tanya Beby melepaskan penasarannya.
“Bukan Beby, Alien yang bernama Elips yang memberikan benda itu adalah kekasih nenekku dulu sejak nenek masih gadis, karena hubungan dia dengan nenekku ditentang oleh pimpinan Alien dengan aturan tidak boleh berhubungan dengan manusia, jika tetap berhubungan maka hidup nenekku akan berakhir. Demi Nenek, dia meninggalkan nenek bersama benda ini, dan akhirnya nenek menikah dengan kakekku” Jelas Vino membicarakan mengenai siapa pemilik papan ajaib ini sebelumnya.
Kemudian Vino melanjutkan kata-katanya “ Elips, mantan kekasih nenekku, aku sudah mengenalnya saat nenek memberikan benda ini ketika nenekku hidup sejak aku masih SMP dan Elips sudah mengizinkan aku memberikan benda itu padamu karena kamu mengingatkan nya pada nenekku , sekarang Elips bersama kita”, jawab Vino
Tuiiiiiiing,…. cahaya kebiruan dari celah-celah papan ajaib itu keluar , cahaya itu menembus keluar ruangan gudang tersebut, untunglah tak ada orang disana , dari cahaya tersebut muncullah seorang kakek yang tampan nan berkharisma serta bersahaja senyumannya,. “ Selamat siang Beby, aku yang menciptakan benda itu agar dia bisa berguna untukmu” , sapa Kakek itu dengan bahasa isyaratnya, bahasa isyarat yang dipelajari dari neneknya Vino..
Kemudian Beby menitikkan air mata setelah mengingat segala yang dia lalui bersama papan Ajaib dan Vino yang selama ini. “Selamat Siang juga Elips, terimakasih segalanya” , jawab Beby, kemudian memeluk Elips , namun sayangnya Elips hanya biasan cahaya yang berwujud sehingga Beby tidak bisa memeluknya secara utuh.
            “Maafkan aku Beby, tidak apa-apa dengan semua ini karena Vino mencintai kamu dengan tulus seperti aku, sangat mencintai Elina, Nenek Vino” , Elips mengatakan hal itu kepada Beby kemudian dia melanjutkan kata-katanya. “Maafkan aku Beby, Vino. Aku harus pamit, jagalah papan ini”, dalam sekejap Elips menghilang  setelah mengatakan kata “I love U Elina, Beby”
`           Setelah wujud dan cahaya Elips menghilang seketika, Papan Tulis ajaib mulai menampakkan tulisannya, kali ini tulisan yang lebih bercahaya dua kali lipat daripada biasanya  “ Hai pasangan tanpa suara , kenapa diam? , hah sunyi sekali , aku merasa panas”, candanya.
            Vino dan Beby bersamaan membaca tulisan papan Ajaib itu kemudian tertawa bersama.
“Beby, aku ingin mengatakan sesuatu………”, Vino ingin mengutarakan perasaannya
“Ustttt” Beby merapatkan jari telunjuknya tepat dibibir Vino. “Vino , aku sudah tau apa yang akan kamu ucapkan, cinta tak harus diungkapkan kata-kata, sekarang kita sudah jadi pasangan sejak pertama aku mendapatkan benda yang bawel itu”, ucap Beby dengan bahasa isyaratnya lalu tersenyum manis. Vino memahami arti bahasa isyarat Beby dan kemudian Vino memeluk Beby. Akhirnya  mereka tidak perlu lagi mengeluh pada Papan Ajaib tentang hubungan mereka karena semua sudah terjawab.
            Lalu suasana gudang yang awalnya kelihatan kumuh berubah menjadi tempat romantis yang dipenuhi lampu-lampu indah, sepertinya Elips merencanakannya. Papan Ajaib pun menampakkan tulisannya dengan menyindirkan Vino “ Cinta tanpa suara, tak terucap namun terbuktikan oleh sikap” .
            Vino dan Beby yang terpana dengan suasana itu kemudian tersenyum setelah membaca  goresan papan ajaib itu, dan sejak kejadian itu Beby dan Vino semakin akrab, jadi seisi sekolah sudah tahu status hubungan mereka . dan Beby si gadis Tunarungu telah sukses, Dia memenangkan lomba Kreatif Anak Bangsa antar provinsi tingkat SMA . saat itu Beby mulai terkenal dan  cita -cita Beby mempunyai butik seni telah terwujud , begitupun Vino juga mempunyai galeri bermacam model lampu lampion unik yang sudah dikenal bahkan diminati sampai di luar negeri, Vino mendapat inspiransi dari Elips, mantan kekasih neneknya .

          lalu Papan Ajaib itu selalu bersama mereka sampai akhir :)



Kamis, 06 Maret 2014

Menunggu kamu

Sudah satu tahun sudah berlalu , tahun dimana aku dan kamu terpisah hanya karena orang ketiga, tahun yang telah menjadi akhir kebersamaan kita, tapi kenapa harus ada dia , Sekarang dia yang aku percayakan untuk bersamamu , dia yang aku yakini cukup baik untukmu, namun hatiku tak cukup bisa untuk menutupi kebolehanku untuk dirimu bersamanya. Bukan karena dia tidak baik untukmu dimataku, bukan karena dia yang terlalu menyayangimu melebihiku , juga bukan karena kamu menyayanginya tapi karena aku terlalu menyayangimu melebihi perasaanmu padanya,aku cinta.
Aku selalu merindukanmu setiap matahari bergerak dari peraduanya dan kembali pada tempatnya, dan aku juga merindukanmu sepanjang kegelapan kesunyian , sepanjang aku merasakan denyut nadi yang disebut istilah sebuah kehidupan.
Jadi selama masih mencintaimu, bolehkah aku menunggumu? Walaupun hasilnya aku tahu, kamu takkan kembali. menunggumu tepat untukku, akan selalu jadi kebiasaanku meski terus gelisah, tapi aku suka menikmatinya termasuk menikmati tangisan rindu yang diangap terlalu bodoh menunggu orang yang sama sekali tidak mencintai sipenangis itu. Kata orang seharusnya yang menangis itu bukan aku, tapi kamu. Malah aku merebut tangisan itu, kelak kuharapkan merubah hasilnya "kamu kembali"